Arti Kode E-472 / E-473 pada Makanan dan Minuman

Pernahkah anda membaca berita, isu, atau ulasan-ulasan mengenai adanya unsur babi dengan kode E472/E-473 pada makanan atau minuman. Beberapa situs dan buku telah memberitakan tentang adanya kandungan babi sebagai emulsifier ( emulsi adalah bahan yang ditambahkan ke dalam campuran pangan yang menggabungkan komponen air dan minyak ). CONTOH adalah ES KRIM MAGNUM…

Ada yang pro dan kontra tentang kehalalannya, sementara isu ini terus berkembang dan meresahkan sebagian masyarakat dimana kita ketahui bahwa di sisi kemasan es krim Magnum tersebut tercantum logo resmi Halal dari MUI. Lantas bagimanakah sikap kita yang sebaiknya…

 

Disini saya tidak ingin membela antar pihak yang pro maupun yang kontra, akan tetapi saya ingin mencoba mengkaji tentang bagaimana sikap seorang muslim terhadap suatu berita yang masih simpang siur kebenarannya.

Berikut keterangan mengenai kode E472 dan E473

 

E 472

Bernama ilmiah various Ester of Mono and Diglycerides of Fatty Acids atau Pengemulsi dan Penstabil-Garam atau Ester dan Asam Lemak.

Status: Syubhat, tergantung kehalalan asam lemak yang digunakan dalam pembuatannya; halal jika asam lemaknya berasal dari tanaman, haram jika berasal dari babi atau hewan yang tidak disembelih secara Islami.

 

E 473

Bernama ilmiah Sucrose Esters of Fatty Acids atau Pengemulsi dan Penstabil-Garam atau Ester dari Asam Lemak.

Status : Syubhat, tergantung kehalalan asam lemak yang digunakan dalam pembuatannya; halal jika asam lemaknya berasal dari tanaman, haram jika berasal dari babi atau hewan yang tidak disembelih secara Islami ( sumber http://www.halalguide.info/content/view/407/38/ )

 

Di atas jelas telah diterangkan statusnya yang syubhat, karena mengandung dua unsur yang halal jika berasal dari tanaman atau hewan halal yang sembelih dengan cara halal pula serta unsur haram yang mengandung sumber dari selainnya.

 

Untuk mengenai kasus es krim Magnum yang telah distempel logo Halal resmi dari MUI, bisa kita lihat pula tanggapan dari pihak MUI mengenai sertifikat Halal tersebut.

“…..Di situs jejaring sosial Facebokk beredar kabara bahwa salah satu produk es krim Walls bermerek Magnum mengandung lemak babi dengan kode E472. Kode E472 ditemukan pada daftar komposisi di kemasan Magnum. Menjadi pertanyaan adalah pada kemasan Magnum itu tertera label halal Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). Direktur LPPOM MUI, Lukmanul Hakim, ketika dikonfirmasi hidayatullah.com mengaku kaget dengan kabar itu. Ia membantah terkninya bukan dari babi. Itu sebabnya kami beri label halal,”terangnya terkait adanya kandungan lemak babi di produk Magnum.“Pada kode E472 itu pengelmusi berupa nabati maupun hewani. Hewani bisa berupa babi dan juga non-babi. Pada Magnum ini kami teliti pengemulsi hewaninya bukan dari babi. Itu sebabnya kami beri label halal,” terangnya ( http://www.hidayatullah.com/read/15974/21/03/2011/lppom:-kode-e472-tidak-berarti-babi.html )”

Dari sumber yang lain pula, pihak MUI menerangkan :

..Berita yang tersebar di jejaring sosial menyebutkan bahwa di dalam Magnum terdapat kandungan bahan dengan kode E472, yang dicurigai berasal dari lemak babi. Padahal, Magnum termasuk salah satu produk yang telah memperoleh sertifikat halal dari MUI. Lalu, mungkinkah LPPOM MUI,  sebagai lembaga auditor halal meloloskan produk ini begitu saja? Tentu saja tidak. Dalam proses audit, para auditor LPPOM MUI sebagai saksi sekaligus wakil ulama pemberi fatwa halal, senantiasa berpedoman pada tata cara audit yang benar, karena masalah halal dan haram menyangkut akidah yang tidak bisa dipermainkan.Auditor  yang diangkat oleh LPPOM MUI telah melalui proses seleksi kompetensi, kualitas dan integreritas, sebelum mereka ditugaskan untuk melaksanakan audit halal. Mereka adalah para ahli di bidang pangan, kimia, pertanian, biologi, fisika, hingga bidang kedokteran hewan. Dari proses audit produk dan audit system produksi yang sangat panjang, kemudian para auditor tersebut menyampaikan hasil temuannya kepada Komisi Fatwa MUI untuk dikaji dari aspek syariahnya. Dari sinilah dikeluarkan fatwa mengenai halal atau tidaknya sebuah produk. Dengan proses yang berlapis seperti itu, dapat dipastikan bahwa setiap produk yang telah berlogo halal dari MUI telah terbebas dari kandungan najis maupun haram….” (http://www.halalmui.org/index.php?option=com_content&view=article&id=674%3Akandungan-kode-e-dalam-es-krim&catid=117%3Akonsultasi-halal&Itemid=551&lang=en )

 

Jelas bagi kita bahwa pihak-pihak yang terkait khususnya yang berwenang memberikan keputusan kehalalan suatu produk makanan yakni MUI telah menyatakan bahwa kandungan E472 dan E473 pada kandungan es krim Magnum adalah tidak menggunakan unsur-unsur haram. Maka berdasakan keterangan status E472/E473 yang syubhat terjawab sudah dengan keterangan resmi MUI di atas tadi. Maka status emulsifier E472 dan E473 tersebut adalah Halal.

 

Mungkin sebagian orang akan berkata,..ah inikan bisa saja MUI dibayar, atau ….MUI kan hanya menguji sample dan tidak terus mengawasi produksinya, dan lain-lain. Disinilah kita sebagai kaum muslimin diperlukan sikap yang arif dan bijaksana.

 

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu bawah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda :

 

Jauhkanlah dirimu dari prasangka buruk, sebab prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta “ . Hadist shahih riwayat Bukhari dan Muslim

 

سمعوا وأطيعوا، إلا أن تروا كفراً بواحاً عندكم عليه من الله برهان

Mendengar dan taat lah kalian ( kepada pemerintah kalian ), kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata dan kalian memiliki buktinya dihadapan Allah.” Hadist shahih riwayat Bukhari dan Muslim

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain..” Surat Al-Hujuraat 12

 

Umumnya informasi yang kita dapati baru berupa prasangka, atau didapat dari orang-rang yang mengaku sebagi orang yang ahli atau orang yang pernah bekerja di perusahaan tersebut. Maka yang perlu kami katakan disini adalah kembalikanlah semua kepada yang pihak berwenang terhadap urusan ummat karena perkara halal haram adalah perkara besar yang menyangkut urusan ummat.

 

Firman Allah ta’ala :

وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” An-Nisa: 83

yaikh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’diy rahimahullah menafsirkan ayat ini,

هذا تأديب من الله لعباده عن فعلهم هذا غير اللائق. وأنه ينبغي لهم إذا جاءهم أمر من الأمور المهمة والمصالح العامة ما يتعلق بالأمن وسرور المؤمنين، أو بالخوف الذي فيه مصيبة عليهم أن يتثبتوا ولا يستعجلوا بإشاعة ذلك الخبر، بل يردونه إلى الرسول وإلى أولي الأمر منهم، أهلِ الرأي والعلم والنصح والعقل والرزانة، الذين يعرفون الأمور ويعرفون المصالح وضدها. فإن رأوا في إذاعته مصلحة ونشاطا للمؤمنين وسرورا لهم وتحرزا من أعدائهم فعلوا ذلك. وإن رأوا أنه ليس فيه مصلحة أو فيه مصلحة ولكن مضرته تزيد على مصلحته، لم يذيعوه

“Ini adalah pengajaran dari Allah kepada Hamba-Nya bahwa perbuatan mereka [menyebarkan berita tidak jelas] tidak selayaknya dilakukan. Selayaknya jika datang kepada mereka suatu perkara yang penting, perkara kemaslahatan umum yang berkaitan dengan keamanan dan ketenangan kaum mukminin, atau berkaitan dengan ketakutan akan musibah pada mereka, agar mencari kepastian dan tidak terburu-buru menyebarkan berita tersebut. Bahkan mengembalikan  perkara tersebut kepada Rasulullah dan [pemerintah] yang berwenang mengurusi perkara tersebut yaitu cendikiawan, ilmuwan, peneliti, penasehat, dan pembuat kebijaksanan. Merekalah yang mengetahui berbagai perkara dan mengetahui kemaslahatan dan kebalikannya. Jika mereka melihat bahwa dengan menyebarkannya ada kemaslahatan, kegembiraan, dan kebahagiaan bagi kaum mukminin serta menjaga dari musuh, maka mereka akan menyebarkannya Dan jika mereka melihat tidak ada kemaslahatan [menyebarkannya] atau ada kemaslahatan tetapi madharatnya lebih besar, maka mereka tidak menyebarkannya. (Taisir Karimir Rahman hal. 170, Daru Ibnu Hazm, Beirut, cetakan pertama, 1424 H)

Demikian yang bisa saya sampaikan, karena mungkin masih memiliki banyak kekurangan dalam ilmu maka sangat mungkin akan tetap menimbulkan banyak pertanyaan baik yang pro maupu yang kontra. Adapun saya tekankan, bahwa makanan tersebut adalah perkara mubah dan dari segi harga mungkin untuk sebagian kalangan adalah tergolong mahal. Alangkah baiknya kita mengkonsumsi sesuatu yang benar-benar bermanfaat dan terbebas dari perkara-perkara yang syubhat. Hanya saja bila menyangkut masalah pengharaman atau penghalalan, alangkah bijaknya kita kembalikan kepada pemerintah yang berwenang dalam masalah ini semisal para alim Ulama yang diakui keilmuannya atau mungkin untuk wilayah nasional yang kita kenal dengan MUI. Semoga bermanfaat

waakhiru da’wana ‘anilhamdulillahi robbil ‘alamin.

Abu Na’ilah Danny

https://abunailahdanny.wordpress.com/2012/02/17/menyikapi-kode-e-472-e-473/#comment-2

Advertisements

About ridobrown

sama seperti dengan anda, masih butuh uang untuk kehidupan....
This entry was posted in agama and tagged , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Arti Kode E-472 / E-473 pada Makanan dan Minuman

  1. Jordan says:

    Anshor thoghut bisa dgn kekuatan dan bisa dengan lisan. Ketika kita mencatut kata ulil amri dari Al Qur’an maka kita harus mengetahui dulu difinisi dari ulil amri tersebut,sehingga kita tidak mudah menyematkan kalimat tersebut pada seseorang ataupun kelompok… Menurut antum itu MUI konsisten apa tidak dgn fatwa2 yg telah mereka keluarkan guna merealisasikan ketaatan kepada Allah.

    • ridobrown says:

      MUI untuk mengeluarkan fatwa sudah konsisten… tinggal sosialisasinya saja yang kurang.. mungkin terbatas oleh dana.. karena untuk iklan jor-joran di tivi sepertinya tidak mampu.. pasang iklan di koran juga tidak pernah… MUI hanya mengandalkan berita-berita saja… artinya tidak sengaja memasang iklan…

  2. MUI pernah berfatwa haramnya SEPILISME namun selang beberapa tahun MUI mengeluarkan fatwa haramnya GOLPUT. Apa ini yg di maksudkan dgn konsisten? Atau fatwa hanya berdasarkan pesan SPONSOR ? Bagaimana Demokrasi Menurut antum ?

    • ridobrown says:

      gini bro…
      mungkin, MUI disini mengapa mengeluarkan fatwa haram untuk GOLPUT, karena untuk menjaga stabilitas Ideologi politik sosial budaya dari rakyat indonesia… menjaga jangan sampai 100% GOLPUT… karena kalo sampai rakyat tidak ada yang memilih (walaupun mengetahui kandidat yang di pilihnya itu tidak qualified…) maka ini menjadi bahaya juga untuk suatu demokrasi suatu negara… artinya harus tetap memilih dari yang terburuk, buruk sekali, ataupun buruk.. maka masih ada pilihan.. yaitu yang buruk… artinya.. masih ada harapan.. yang buruk itu menjadi baik… mungkin….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s